Isthi Rahayu's #Dreamtrip with Sariayu Goes to Lombok

Tue 04 Jul 2017 2:18 PM

Sahabat, #SariayuDreamTripToLombok memang telah berakhir. Tapi keseruannya masih sangat terasa dihati para peserta. Salah satunya Isthi Rahayu yang membagikan pengalamannya mengikuti #SariayuDreamTripToLombok. Simak pengalaman Isthi di bawah ini yuk!


Part 1

DSC00507_edit

“And I put all my heart to get to where you are
Maybe it’s time to move away
I forget Jakarta
And all the empty promises will fall
This time, I’m gone to where this journey ends”

Lamat-lamat, suara Adithia Sofyan yang menyanyikan lagu “Forget Jakarta” terdengar dari sound systemkendaraan yang saya tumpangi saat menuju Bandara International Soekarno-Hatta, Tangerang. ‘Pas banget, setelah beberapa hari didera deadline, akhirnya saya bisa plesir, “melarikan diri” sejenak dari rutinitas,’ batin saya.

Tak tanggung-tanggung, destinasi weekend gateway saya kali ini adalah Lombok, yang konon katanya made inheavenWelllet see, karena ini pertama kalinya bagi saya untuk mengunjungi Lombok maka saya takkan percaya begitu saja.

Pukul 07.00 AM saya tiba di terminal 1B dan langsung menuju Maxx Coffee guna bertemu dengan sembilan peserta perempuan lainnya. Wait… sembilan? yup!! kali ini trip saya rame’an bersama sembilan orang peserta (perempuan) yang bisa dibilang satu sama lain tidak saling kenal, bahkan belum pernah bertemu sebelumnya. Awalnya saya pikir agak nekat, traveling bersama orang yang sudah kenal saja kadang ketemu masa-masa “tidak enaknya,” lalu apa kabar kalau kita traveling dengan “orang-orang asing” yang belum pernah kita temui sebelumnya? Nah, pada trip kali ini, ketakutan saya tersebut ternyata tidak terbukti.

Jadi ceritanya, kami ber-10 dikumpulkan oleh situs berita muslim populer www.dream.co.id melalui event travel#DreamTrip yang sudah memasuki gelaran ketiga. Sebelumnya, di tahun 2016, Dream.co.id juga pernah mengadakan event serupa dengan destinasi Padang dan Yogyakarta. Nah, kali ini, Dream.co.id yang menggandeng Sariayu Martha Tilaar kembali menyelenggarakan #Dreamtrip yang diberi tajuk Sariayu Dreamtrip to Lombok ke–tentunya–Lombok.

 

 

Doc: #Dreamtrip


Long story short… here I am, tepat pukul 12.00 PM WITA, berdiri di bawah teriknya matahari Lombok bersama rombongan yang keseluruhannya berjumlah 16 orang. Saking excited nya, saya langsung tak sabar menjelajah Lombok bersama sembilan travel mates baru saya.

 

 

 

Destinasi wisata pertama yang kami kunjungi adalah Desa Wisata Sukarara yang terletak kurang lebih 20 menit dari Bandara International Lombok. Di sepanjang jalan di desa ini, saya lihat ada banyak toko yang menjual kain tenun yang sekaligus memperlihatkan cara pembuatannya. Tak berapa lama, bus yang kami tumpangi pun belok ke salah satunya, Patuh Cooperative. Sebelum berbelanja, kami terlebih dulu melihat proses pembutan kain tenun yang juga disebut dengan songket ini. Di bagian depan toko, terlihat ada empat wanita dari berbagai rentang usia yang asik membuat songket. Para pengrajin ini tampaknya sudah sering sekali didatangi wisatawan. Karena sembari bekerja, mereka dengan ramahnya mau saja menjawab pertanyaan-pertanyaan kami mengenai proses pembuatan kain songket. Ssst… kalau Anda melihat sehelai kain songket itu dibandrol dengan harga yang mahal, jangan protes ya. Karena untuk menyelesaikan sehelai kain songket berukuran 60×200 cm saja, para pengrajin ini membutuhkan waktu rata-rata antara dua minggu sampai satu bulan, loh. Nah, lama bukan? belum lagi proses kreatif desainnya yang pastinya berharga mahal.

Puas bertanya-tanya mengenai proses pembuatan songket–nah, ini part yang seru nya–para pengunjung diperbolehkan untuk mencoba pakaian khas Nusa Tenggara Barat, Lambung, dan berfoto ria di Bale Lumbung yang merupakan rumah adat suku Sasak.

Ada yang seru nih, di balik cerita terampilnya perempuan-perempuan Sukarara dalam menenun. Konon, katanya kalau perempuan di sana tidak pandai menenun maka ia tidak bisa diculik (tradisi Lombok pengganti melamar), loh. Karena keterampilan menenun lah yang menjadi tolak ukur seorang perempuan apakah ia sudah siap untuk menikah atau belum. Oleh karena itu, gadis-gadis setempat sudah diajari menenun sedari kecil. Menurut saya, tak hanya sebagai bekal pernikahan semata, namun syarat ini juga menjadi salah satu cara untuk mempertahankan tradisi menenun yang takutnya semakin hilang tergerus waktu.

DSC00256_edit

Selanjutnya, kami mengunjungi Desa Wisata Sasak Ende yang terletak di Sengkol, Lombok Tengah. Desa wisata ini masih bersifat tradisional. Hingga kini, penduduknya menjalani aktivitas sehari-hari dengan memegang teguh tradisi yang masih mengakar dari para leluhurnya. Walaupun di desa ini mayoritas penduduknya beragama Islam, namun tak membuat tradisi yang telah berumur ratusan tahun menjadi longgar. Percampuran antara tradisi dan agama Islam yang membaur membuat adat istiadat dan keseharian masyarakat desa ini menjadi unik dan menarik.

Memasuki desa yang terletak sekitar 40 KM dari Kota Mataram ini, semriwing aroma kotoran sapi menyeruak. saya celingak-celinguk, tengok kiri-kanan… mencari sumbernya. Ternyata, sumber bau itu berasal dari rumah tinggal masyarakat desa yang lantainya terbuat dari campuran tanah liat dan kotoran sapi. Konon katanya, kotoran sapi bisa membuat nyamuk ogah bertandang ke dalam rumah. Maklum ya, Indonesia kan negara tropis, jadi keberadaan nyamuk penyebab malaria ataupun DBD pastinya mengganggu bahkan dapat mengancam nyawa penduduk setempat.


Bebunyian samar-samar terdengar. Hingga akhirnya kami menyaksikan sekumpulan pria memainkan alat musik khas Nusa Tenggara Barat. Di antara semua alat musik yang ada, mungkin yang paling menarik perhatian saya adalah genggong. Genggong adalah instrumen sejenis harpa mulut yang akan menghasilkan suara saat ditiup dan digerakkan talinya. Konon, genggong tak begitu saja dapat dibuat. Masyarakat yang beragama Hindu di NTB memiliki kepercayaan apabila seseorang yang membuat genggong perlu memberikan sesaji seperti beras, sirih, pinang, benang, dan uang kepeng. Pembuatannya pun hanya boleh dilakukan pada hari Jumat. Jika syarat-syarat tersebut tidak dipenuhi maka genggong yang dihasilkan tidak akan dapat memberikan nada yang baik dan justru dipercaya akan bisa menimbulkan kesialan.

DSC00284_edit

Tak hanya menyaksikan pertunjukan musik, keseruan hari itu pun semakin menjadi ketika warga setempat mempertunjukkan Peresean. Peresean adalah pertarungan antara dua lelaki (yang dipanggil dengan pepadu) yang bersenjatakan tongkat rotan atau yang disebut dengan penjalin. Para petarung tersebut juga menggunakan perisai dari kulit kerbau yang tebal dan keras yang disebut dengan ende. Walaupun kedua pria tersebut bertarung, namun peresean masuk dalam seni tari daerah Lombok. Maka tak heran, sepanjang acara berlangsung, musik tak pernah berhenti dan wasit yang disebut pakemba pun tak jarang mengeluarkan gaya tarian yang cukup menghibur di sela-sela pertarungan.

Konon, peresean dulu digelar untuk melatih ketangkasan pria suku Sasak dalam mengusir penjajah. Selain itu, kabarnya peresean juga menjadi upacara memohon hujan bagi suku Sasak di musim kemarau.

 

 

Setelah mengelilingi desa dan berbelanja di koperasi milik warga, kami pun beranjak meninggalkan desa wisata ini untuk menuju destinasi wisata selanjutnya yang pasti ditunggu oleh semua peserta: pantaiiii!!

 

 

Plesir ke Lombok nggak afdal doong, kalau belum ke pantai. Nah, puas melihat-lihat indahnya songket khas Lombok dan uniknya keseharian suku Sasak, kami pun menuju destinasi kedua: Pantai Tanjung Aan. Sudah agak mepet waktu senja, tapi justru momen itu membuat suasana pantai menjadi lebih dramatis.

Pantai yang terletak sekitar 75 KM dari Kota Mataram ini menawarkan beberapa keunikan yang worth to visit. Pertama, pantai ini berhadapan langsung dengan Samudera Hindia sehingga Anda bisa melihat laut membiru nan luas di hadapan Anda. Yang kedua, pantai ini juga dikenal sebagai Pantai Merica karena Pantai Tanjung Aan memiliki dua karakteristik pasir. Yang pertama pasir superlembut berwarna putih dan yang kedua pasir bulat seperti merica. Ingin merasakan sensasi memandang pantai dari ketinggian? nah, ini keunikan ketiga yang menjadi daya tarik Pantai Tanjung Aan. Pantai Tanjung Aan dikelilingi oleh beberapa bukit yang tidak terlalu tinggi. Oleh karena itu, Anda bisa sedikit trekking (tenang, beneran sedikit kok, plus sudah dibuat tangga) lalu voila!! Anda bisa memandang laut lepas di hadapan dari ketinggian. MasyaAllah, tak bisa digambarkan deh keindahannya.

Tertarik mengunjungi Pantai Tanjung Aan? kalau saran saya sih, coba kunjungi pantai ini di bulan Februari (eh tapi ini khusus bagi Anda yang tidak takut sama cacing yaa). Karena pada bulan ini, ada event spesial bernama Ritual Bau Nyale. Ritual ini berhubungan dengan mitos masyarakat setempat mengenai Putri Mandalika. Konon, putri tersebut melompat dari bukit untuk menghindari kejaran seorang pangeran yang ingin mempersuntingnya. Selanjutnya, mitos mengatakan bahwa Putri Mandalika bereinkarnasi menjadi “nyale”, atau cacing laut. setelah “perburuan”, nyale akan dijadikan bahan beberapa jenis masakan lokal.

Seharian beraktivitas di luar ruang pasti muka jadi kucel dan nggak fresh yaa. Plus, saya pun harus reapply tabir surya untuk melindungi wajah dari efek buruk sinar matahari. Saya sih bawa sabun muka, tapi kok ya rempong cuci muka di tempat wisata. Untungnya, saya bawa Sariayu Tissue Make up Removal. Dengan sekali usap, sisa make up termasuk lipstick (plus keringat) yang menempel di wajah bisa hilang dan wajah jadi segar seketika. Serunya, tissue basah yang dikemas dalam sachet ini bahkan bisa menghapus maskara yang bersifat waterproof,loh. Dan plus nya lagi, tissue ini mengandung kolagen yang berguna untuk mengembalikan kekenyalan kulit, air mawar untuk melembabkan kulit, serta aloe vera yang dapat menyejukkan serta membersihkan kulit. Kulit wajah sudah segar? biar nggak pucat pakai lipstick doong. Nah, pilihan saya adalah Sariayu Duo Lip Color Inspirasi Gili Lombok yang terinspirasi oleh kain Mbojo, kain tenun khas Lombok. Saya pilih matte (oh iya, kata duo ini berasal dari dua varian dalam satu kemasan-matte dan glossy) varian GL-06 biar cetar :D.

Doc: #Dreamtrip

Doc: #Dreamtrip

Puas menikmati keindahan alam di Pantai Tanjung Aan, kami mampir ke Pantai Kuta Lombok. Sebentar saja sih, cuma foto grup di landmark, plus belanja camilan di Indo*&ret :D.

Dan alhamdulillah, hari pertama pun berjalan dengan lancar. Kami diantar ke Lombok Garden Hotel untuk beristirahat.

Nah, penasaran dengan kegiatan Sariayu Dreamtrip to Lombok hari kedua dan ketiga? Simak part duanya di laman sebelah ya.


Part 2

 

#Dreamtrip with Sariayu Goes to Lombok Part 2

DSC00504_edit

A holiday is not a holiday well spent if you didn’t waste it totally with your friend…

… Cenah ????

I am back… with the second part of #Dreamtrip with Sariayu Goes to Lombok. Yup, menghabiskan satu hari bersama teman-teman baru pastinya membuat mereka jadi tak asing lagi bagi saya. Kekakuan di hari pertama langsung luntur tergantikan dengan canda tawa dan keakraban layaknya kami sudah kenal bertahun-tahun #eh :D. Akhirnya, trip hari kedua ini pun menjadi semakin seru.

Agenda hari kedua yang pertama adalah mengunjungi Bukit Malimbu. Bagi saya, laut lepas yang dilihat dari ketinggian selalu menjadi pemandangan yang spektakuler. Dan pagi itu, hal tersebut diakomodasi oleh Bukit Malimbu, yang terletak di wilayah Senggigi, sekitar 30 menit dari pusat Kota Mataram.

Berjalan tak jauh dari parkiran, saya pun langsung terkesiap. Garis Pantai Senggigi yang panjang terlihat jelas dengan mata telanjang. Gradasi birunya air laut yang berpadu sempurna dengan perbukitan di hadapannya pun membuat saya takjub. MasyaAllah. Akhirnya, matahari terik Pulau Lombok tak saya hiraukan.

DSC00414_edit

Tak lama memang kami ke sana, karena harus mengejar kapal boat yang akan mengantar kami ke.. mana? Gili Island!! ???? yeaaay. Tepatnya Gili Trawangan.

Dengan menggunakan kapal boat, kami pun menuju Gili Trawangan yang ditempuh dalam waktu kurang lebih 30 menit.

DSC00507_edit

Sesampainya di pelabuhan Gili Trawangan, saya langsung amazed dengan atmosfer yang berubah drastis. Dari Kota Mataram yang sunyi dan sendu, tetiba di pulau yang memiliki panjang 3 KM dan lebar 2 KM ini suasana langsung hip dan meriah. Deretan cafe yang ada di sepanjang tepian pantai disesaki oleh wisatawan yang didominasi oleh wisatawan mancanegara. Musik dari chart lagu internasional teranyar berdentum, menimbulkan suasana party tiada henti.

Apa saja sih yang bisa Anda lakukan di sini? banyak!! :D. Yang pasti, Anda bisa menikmati hamparan pasir putih yang bersentuhan langsung dengan air laut berwarna hijau toska. Jangan tanya bagaimana indahnya. Hanya bisa berucap alhamdulillah bisa menjejakkan kaki di sini. Anda juga bisa sekadar “nongkrong” di salah satu cafe yang ada di sana sembari menikmati angin laut, membaca, mendengarkan musik, atau bercengkrama dengan orang terkasih. Di setiap jengkal bagian luar pulau, pantai nan indah menghampar begitu saja. Nggak akan cukup deh eksplor mendatangi pantai tersebut satu persatu dalam waktu satu hari. Takut lelah memutari pulau dengan berjalan kaki? Jangan khawatir, di sana Anda bisa menyewa sepeda seharga Rp50.000 untuk satu hari atau menumpang cidomo, angkutan khas Lombok yang merupakan perpaduan antara cikar, dokar, dan motor. Jadi gambarannya, cidomo ini serupa dengan delman namun menggunakan ban tebal layaknya sebuah motor.

Alhasil, kami ber-10 menikmati hari itu sembari berkeliling pantai dengan sepeda, leyeh-leyeh, dan pastinya foto-foto mengabadikan keindahan Gili Trawangan.

 

Sayangnya, sebelum pukul lima kami sudah harus kembali ke Senggigi. Karena selain menghindari antrean wisatawan yang juga hendak kembali, semakin sore air laut pun semakin tinggi. So… perjalanan kami ke Gili Trawangan hari itu akhirnya menutup trip hari kedua kami.

DAY 3 (AKA last day *cry)

#Dreamtrip hari terakhir dibuka dengan beauty class dari Sariayu. Dipandu oleh BA berpengalaman dari Sariayu di Lombok, kami belajar make up mulai dari cara membersihkan wajah (ternyata ada tips and trick nya toh :(. Salah deh selama ini) hingga menggunakan make up.

Masing-masing kami disediakan palet make up Color Trend 2017 Sariayu Martha Tilaar Inspirasi Gili Lombok The Colors of Asia. Pada color trend kali ini, keindahan alam dan budaya Lombok dituangkan dalam pilihan warna yang diramu secara khusus dengan bantuan sebuah konsultan warna global di Prancis. Dari kolaborasi itu, ditemukan empat kunci tren warna global yang senada dengan palet alam dan budaya Lombok, yaitu sinthetica (warna-warna coral, dengan sentuhan peach), galeri (pilihan gradasi hijau), legacy (warna alam dan ungu), dan embellishment (warna terang dengan tone yang lebih dalam). Karena terinspirasi oleh keindahan pulau Lombok yang notabene terdapat ada di Indonesia, jadinya warna-warna tersebut sudah pasti sesuai dengan warna kulit wanita Indonesia, iklim, serta kondisi lingkungannya.

Rangkaian Color Trend 2017 Sariayu Martha Tilaar Inspirasi Gili Lombok The Colors of Asia bisa dibilang cukup lengkap, mulai dari eyes hadowduo lip color, lipstick, tinted moisturizer dan…. *drum rolling… yang menjadi favorit saya: liquid eye shadow. Setahu saya, baru kali ini brand lokal mengeluarkan produk liquid eye shadow.So, two thumbs up buat Sariayu. Terdiri dari 12 pilihan warna, liquid eye shadow duo-warna ini terbuat dari ekstrak tanaman flamboyan dan Amethys Powder yang mengandung vitamin E untuk melindungi kulit dari iritasi.

Rangkaian Color Trend 2017 Sariayu Martha Tilaar Inspirasi Gili Lombok The Colors of Asia ini juga dilengkapi dengan UV Filter yang melindungi kulit dari pengaruh buruk lingkungan dan sinar UV. Wah nggak takut lah ya, berpanas-panas ria di Lombok, kan proteksinya sudah maksimal ????

Seusai beauty claiss dan cantik-cantik, kami pun check out (*cry) lalu melanjutkan perjalanan ke destinasi wisata selanjutnya: Islamic Center Mataram. Pernah dengar kalau Lombok belakangan sedang menggalakkan wisata halal dan religi nya? nah, kehadiran Islamic Center Mataram ini semakin menasbihkan hal tersebut plus gelar “Island with a Thousand Mosque” nya.

Islamic Center Mataram ini mulai dibangun sejak tahun 2011 dan diresmikan pada 15 Desember 2013. Dibangun di atas lahan seluas 7,6 hektare di sudut jalan Langko dan Udayana yang merupakan jalur utama, Islamic Center Mataram tampak begitu megah dengan memadukan karakteristik bangunan tradisional Lombok dan Sumbawa.

Bangunan Islamic Center ini dilengkapi dengan menara setinggi 99 meter sesuai dengan 99 nama nama Allah (Asma’ul Husna) yang kalau hingga ke lantai teratas menara total menjadi 114 meter sesuai dengan jumlah ayat yang ada di Alquran. Masjid ini memiliki total lima menara, yang menggambarkan rukun Islam kedua, salat lima waktu.

Destinasi selanjutnya yang juga menjadi destinasi terakhir adalah Taman Narada. Kalau dari kemarin destinasi wisatanya seputar pantai, nah, kali ini kami mengunjungi sebuah taman yang tak hanya memiliki nilai historis tinggi namun juga cantik.

Taman yang terletak di Jalan Raya Narmada, Lembuak, Lombok Tengah ini konon pertama kali dibangun pada 1927 oleh Anak Agung Ngurah Karangasem yang berasal dari Kerajaan Karangasem. Awalnya taman ini berfungsi sebagai tempat untuk menyelenggarakan upacara Pekelan atau ritual pengorbanan. Upacara ini digelar setiap purnama kelima tahun Saka atau pada periode Oktober sampai November. Selain itu, taman ini juga digunakan sebagai tempat peristirahatan para keluarga raja khususnya di musim kemarau. Nah, pantas saja taman ini dibuat dengan sangat cantik dengan beberapa pemandian dan taman nan asri. Katanya pula, di taman ini juga ada air suci yang bisa bikin kita awet muda, loh. Sayangnya, kemarin kami tidak sempat mencobanya karena sudah terlalu sore dan harus mengejar pesawat kembali ke Jakarta. Padahal, saya sudah bekal galon Aqua, buat menampung air dan dibawa ke Jakarta #eh.

Tiga hari menghabiskan waktu di Lombok yang cuacanya sangat panas, pastinya membuat saya harus memberi perlindungan ekstra bagi kesehatan dan kenyamanan rambut juga kulit, terlebih karena saya mengenakan hijab. Beruntung sekali, karena selain ditemani oleh sembilan gadis cantik lainnya, saya juga ditemani oleh rangkaian produk dari Sariayu berupa Sariayu Hijab Hair Care yang terdiri dari shampoo, conditioner, hair tonic, dan hair mist. Dibekali dengan bahan alami seperti urang aring, lidah buaya, daun mangkokan, cabe rawit, dan mint, akar rambut saya jadi kuat, hitam alami, serta mengurangi rasa gatal dan ketombe. Dan ada lagi nih, produk Sariayu Hijab Care yang saya suka sekali: hair mist. Yup, kembali lagi ke isu rambut yang seharian tertutup hijab, kadang rambut jadi lepek dan barbau acem #eh :D. Nah, pertolongan pertamanya, saya kerap menggunakan hair mistyang tak hanya bisa mengharumkan rambut, namun juga bisa menjaga kesehatan serta kesegaran rambut.

Selain urusan rambut, kulit juga jadi butuh perhatian esktra yaa kalau sudah berbicara masalah panas-panasan. Senjata andalan saya: Sariayu Putih Langsat. Seperti layaknya mayoritas wanita Asia lainnya, saya pun terkadang berkeinginan untuk memiliki tone warna kulit yang lebih cerah. Nah, kadang ini jadi kendala kalau saya harus berpanas-panasan. Tapi semenjak saya menggunakan rangkaian Sariayu Putih Langsat, saya jadi tidak takut panas lagi,. Karena rangkaian produk ini mengandung ekstrak buah langsat yang kaya akan kandungan vitamin C dan antioksidan. Ditambah dengan SPF, tak ayal, Sariayu Putih Langsat bisa saya andalkan untuk mencerahkan, merawat, dan melindungi kulit dari efek buruk sinar UV. So, kulit saya bisa lebih cerah tanpa mengubah kulit murninya.

Selain moisturizer, produk favorit saya adalah Sariayu Body Lotion Putih Langsat. Karena kandungan buah langsat, kembang sepatu, pro vit B5 dan natural moisturizernya, walau berpanas-panas ria namun kulit saya tetap cerah, lembab, pluuuus halus.